Marishka
Soekarna
Muralis

Dalam berkarya, Marishka seringkali merepresentasikan beragam refleksi, isu perempuan, dan isu sosial dengan eksplorasi dari berbagai metode seperti menggambar, melukis, kolase, seni grafis, dan mural. Marishka percaya bahwa melalui pengamatan pribadi, ia dapat melibatkan perspektifnya untuk konsep yang lebih luas. Karya-karyanya pernah dipresentasikan dalam “Wani Di Tata” (2015 di Jakarta), Jakarta Biennale: Maju Kena Mundur Kena” (2015 di Jakarta), dan “Sonsbeek TransAction” (2016 di Arnhem).

Untuk #AkuSiapBersikap, Marishka menciptakan mural bertajuk “Perbedaan Bisa Dikepangkan”. Mural cantik ini bisa ditemukan di …… Bila ketemu di jalan, jangan lupa selfie dan unggah dengan tagar #AkuSiapBersikap.

Berekspresi dan bertoleransi
Perbedaan Bisa Dikepangkan

Melalui karya mural ini, Marishka Soekarna menyebutkan bahwa kegiatan mengepang dan dikepang merupakan perwakilan dari sikap toleransi. Salah satu wujudnya, selama proses pengepangan, yang dikepang harus bisa duduk dan diam. Sedangkan yang mengepang, juga perlu mengendalikan suasana agar yang dikepang tidak merasa bosan atau bisa duduk diam selama proses. Interaksi yang saling terkendali antara kedua pihak ini turut juga mewakili sikap saling menghormati.

Rambut anak yang panjang berantakan, dibuat rapi dengan dikepangkan menjadi simbolisasi sederhana akan perbedaan-perbedaan yang dapat dikendalikan. Kepang sendiri tidak 'membuat jadi satu', tetapi 'menyatukan beberapa bagian rambut menjadi satu'.

Kedua karakter, yaitu Ibu dan Anak, juga menjadi perwakilan generasi: yang tua dan muda. Melalui penggambaran dua generasi ini, Marishka percaya bahwa peran penting generasi tua adalah turut mengajarkan sikap-sikap toleran kepada generasi muda. Hubungan Ibu dan Anak ini pun mewakili konsep yang Marishka percayai bahwa sikap toleransi itu penting untuk mulai diajarkan dari rumah/keluarga. Bagaimana pun juga, keluarga adalah ruang belajar anak yang paling dini.